Minggu, 01 April 2012

Lu-Olo vs. Taur = Camarada vs. Companheiro


Edisi Revisi
LU-OLO Vs. TAUR = MARI Vs. XANANA = CAMARADA Vs. COMPANHEIRO:
POVU SAI (Rakyat Menjadi) 
AYAM POTONG
By Vladimir Ageu DE SAFI’I 


Dili, Timor Leste

A.    PENDAHULUAN

Dibandingkan dengan Pemilihan Umum Presidensial (Elição Geral Presidençial) tahun 2007, maka elição 2012 ini terlihat lebih menarik. Pertama, diikuti oleh 13 kandidat. Kedua, di tengah-tengah berlangsungnya kampanye, seorang kandidat, Francisco Xavier do Amaral (Proklamador RDTL---Republica Democratica de Timor Leste tanggal 28 November 1975) meninggal dunia karena sakit. Ketiga, dapat dikatakan bahwa mayoritas kandidat tersebut adalah para pemain lama dengan konsep lama yang mewakili kepentingan generasi lama. Keempat, sejak awal telah diprediksikan bahwasannya kandidat yang akan masuk dalam putaran kedua adalah berkisar antara Lu-Olo, Taur, Horta dan Lasama. Kelima, dana subsidi untuk kanndidat yang baru dicairkan setelah proses pemilihan umum berakhir. Keenam, bahwa banyak warga negara yang memiliki hak pilih yang tidak menggunakan hak pilihnya karena terganjal dengan Undang-Undang Pemilihan Umum yang mengharuskan untuk memilih di lokasi di mana Kartaun Elektoral dikeluarkan serta tidak difasilitasinya bagi warga negara yang berada di luar negeri (lebih dari 100 ribu pemilih tidak menggunakan hak pilihnya dari total daftar pemilih yang berjumlah 626.503). 
Hal menarik lainnya adalah kekalahan telak kandidat incumbent Ramos Horta dan Fernando Lasama de Araujo yang suaranya sekitar 80 ribu suara (17%). Kekalahan Horta sendiri lebih banyak disebabkan tidak adanya dukungan politik dari Xanana Gusmao dengan CNRT-nya sebagaimana yang pernah dia dapatkan pada pemilu 2007. Sementara itu, kekalahan Lasama lebih banyak dipengaruhi oleh beralihnya dukungan massa Partido do Demokratico kepada kandidat Taur Matan Ruak, Lucas da Costa, serta para simpatisan PD yang tinggal di Dili yang tidak bisa pulang kampung. Serta faktor investasi politik dan etika politik versi masyarakat Timor Leste.
 Akhirnya, elisaun jeral yang digelar pada tanggal 17 Maret lalu berakhir dengan dilanjutkan pada segundo ronde karena tidak adanya pemenang mutlak, yakni antara Francisco Guterres Lu-Olo dengan perolehan suara lebih dari 133 ribu (28%) dan Taur Matan Ruak dengan perolehan suara lebih dari 119 ribu (25%). 
Sejak awal, penulis sendiri telah memperkirakan bahwa Lu-Olo yang dicalonkan oleh Fretilin (Frente Revolucionario de Timor Leste Independente) akan masuk pada putaran kedua. Prediksi ini bertentangan dengan pandangan banyak kalangan yang menyatakan bahwa Lu-Olo tidak akan masuk putaran kedua karena suara Fretilin akan terpecah-pecah, yakni lari ke Taur, Rogerio Lobato, dan Jose Luis Gutteres.
Terkait dengan lolosnya Francisco Guterres Lu-Olo dan Taur Matan Ruak ke putaran selanjutnya, telah banyak menimbulkan rumor di tengah-tengah masyarakat bahwa pertarungan di antara keduanya merupakan pertarungan antara Bandar judi utama yang bernama Mari Al-katiri versus José Alexander Kay Rala Xanana Gusmão. Ini merupakan pertarungan “balas dendam” di antara kedua tokoh tersebut terkait dengan perbedaan peran sejarah di masa lalu serta pandangan politik.
Mari Al-katiri merupakan salah satu tokoh utama selain Xavier do Amaral, Nicolau Lobato, Ramos Horta, Rogerio Lobato, Vicente Sahe, dan lain-lain di awal-awal kemerdekaan Timor Leste tahun 1975. Sementara itu, Xanana Gusmão yang peranannya kurang seberapa menonjol dan di luar lingkaran kelompok tersebut adalah figur sentral yang dominan pada era 1980-an pasca meninggalnya tokoh-tokoh lingkaran ‘75’. Secara fisik, antara Mari Al-katiri dengan Xanana tidak pernah bertemu pasca invasi Indonesia hingga digelarnya referendum 1999.
Sejak awal, kelompok Mari Al-katiri diidentifikasi sebagai golongan yang secara politik berideologi kiri (baik sebagai komunis atau sosialis hingga hari ini tidak jelas). Peranan sentral Mari Al-katiri mulai menipis ketika ia berada di luar negeri, yang artinya mulai kehilangan control/kendali terhadap organisasi Fretilin di lima tahun pertama serangan militer Indonesia.
Sedangkan Xanana sendiri, yang meskipun turut membidangi lahirnya Partido do Marxismo-Leninismo (PML) pada awal era 1980-an, ia, muncul sebagai salah satu tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan pasca hancurnya kekuatan Fretilin akibat gempuran militer Indonesia, lebih-lebih pasca tewasnya Nicolou Lobato pada tahun 1978.   
Dengan melihat situasi serta kondisi gerakan perlawanan yang tercerai-berai, maka sebagian pemimpin perlawanan pada waktu itu memandang perlu membentuk wadah baru yang mampu menampung semua partai politik dan “kekuatan-kekuatan sosial-politik lain” dalam negeri yang sebelumnya mendukung integrasi Timor Leste dengan Indonesia. Untuk menampung aspirasi semua kelompok, maka didirikanlah CNRN (Conselho Nacional da Revolucionario Nacional). Organisasi ini merupakan wadah baru sebagai usaha untuk mempersatukan semua orang Timor Leste baik yang masih tinggal di Timor Leste maupun di luar negeri (Indonesia, Australia, Portugal, dll) yang berkeinginan untuk merdeka dan melepaskan diri dari penjajahan Indonesia. Dengan sendirinya, lahirnya CNRN ini menegasikan/menghilangkan peranan Fretilin dalam perjuangan.
Selain itu, dengan dipakainya istilah ‘Revolucionario,’ CNRN kurang dapat diterima oleh para kekuatan politik lainnya, seperti dari kalangan gereja dan para pemimpin UDT(União Democratico Timorense), João Carascalão, yang bermukim di Sidney, Australia. Kelompok ini berpandangan bahwa istilah tersebut berkonotasi kiri atau ada hubungannya dengan ideologi komunisme. Sebagai respon, agar persatuan rakyat Timor Leste dapat terwujud dan perlawanan dapat berlangsung efektif, maka para pemimpin perlawanan seperti Xanana Gusmao, Mahuno, Hodu Ran Kdalak, Bere Malailaka, Konis Santana, Taur Matan Ruak, Lere Anan Timor, David Alex, dan lain-lain memutuskan mendirikan CNRM (Conselho Nacional da Resistençia Maubere).
Dibubarkannya CNRN dan didirkannya CNRM, tidak serta-merta diterima oleh kelompok-kelompok politik sebagaimana dijelaskan di atas. Mereka beranggapan bahwa istilah ‘maubere’ identik dengan Fretilin sayap kiri. Akhirnya, setelah dilakukannya serangkaian diskusi dalam kalangan Dewan Tertinggi Perlawanan memutuskan untuk membentuk wadah baru dengan nama CNRT (Concelho Nacional da Resistênçia Timorense/Dewan Nasional Perlawanan Bangsa Timor).
Dibentuknya CNRT juga menimbulkan penentangan dari para pemimpin di dalam negeri, seperti sikap yang ditunjukkan oleh Nino Konis Santana beserta kelompoknya. Meskipun mendapat penentangan, CNRT tetap dibentuk dan dijalankan dengan pertimbangan bahwa situasi dan kondisi mengharuskan fase ini untuk dilalui. Konsekuansi dari disepakatinya wadah baru bernama CNRT, maka Falintil (Forças Armadas da libertação Nacional de Timor Leste) pun dipaksa untuk “memutuskan hubungan kepartaian” (despartidarização) dari Fretilin dan menjadi “angkatan bersenjata nasional” di bawah pimpinan CNRM.    
Dengan demikian, oleh kalangan Fretilin, Xanana diidentikkan sebagai orang yang telah menghancurkan Fretilin bersama para pengikutnya. Maka tidak heran, jika di era kemerdekaan ini, suhu permusuhan antara orang-orang Fretilin dengan orang-orang CNRT yang dimotori oleh Xanana masih terus terasa dan berlanjut, walaupun Xanana mencoba mengubah singkatan huruf ‘R’ dari Resistênçia menjadi Recontrução.
Secara teoritis, dapat saja dikatakan bahwa elisaun jeral 2012 merupakan bagian terpenting dari konsep demokrasi partisipatif yang mencoba diterapkan di negeri ini. Namun, realitas politik menunjukkan bahwa elijer kali ini telah menjelma menjadi arena pertarungan ‘futu manu’ (sabung ayam) antara Mari Al-katiri dengan Lu-Olo-nya bersama kelompoknya melawan Xanana Gusmão dengan Taur Matan Ruak-nya bersama dengan kelompoknya.
Ini merupakan pertarungan penghabisan (titik darah penghabisan) bagi kedua kelompok tersebut. Sebuah pertarungan yang terkait dengan peranan di masa lalu. Pertarungan menyangkut harga diri dari keduanya. Pertarungan menyangkut eksistensi kedua figur tersebut serta “dinasti” mereka di masa yang akan datang. Maka, cerah dan gelapnya masa depan mereka akan sangat ditentukan oleh masa atau periode 2012-2017 ini.
Jika saja, rumor tentang pertarungan balas dendam ini benar-benar dan sedang terjadi, maka yang menjadi ayam potongnya adalah rakyat. Slogan demi ‘povo’ dipakai sekedar untuk dijadikan sebagai bahan penarik perhatian povu agar mau terlibat dalam arena pertaruhan joga futu manu. “Dukung dan pilih kami, karena kami adalah ‘jenderal’ pejuang kemerdekaan yang sejati/original. Dan hanya kami yang paling pantas memimpin negeri ini.”
Jika rumor ini benar-benar ada, sesungguhnya ‘pesta demokrasi’ yang selalu dikampanyekan sebagai ‘pestanya’ rakyat, dalam konteks ini hanyalah sebuah kegiatan politik penghambur-hamburan uang rakyat. Sebuah anggaran yang akan lebih memberikan benefiço bila diperuntukkan untuk pembangunan kesejahteraan rakyat. Sedangkan untuk penyelesaian ‘politik gengsi’ dapat dilaksanakan dalam lingkaran meja dengan tidak melibatkan rakyat yang sesungguhnya tidak tahu apa-apa.

B.     SEJARAH SUMBER KEKUATAN SOSIAL POLITIK DI TIMOR LESTE
Secara historis, kekuatan sosial politik modern di Timor Leste terbagi dalam dua kekuatan besar, yakni Fretilin (ASDT-Fretilin) dan CNRT. Fretilin dibentuk sebagai sebuah kebutuhan untuk menghadapi invasi Indonesia serta gerakan kontra revolusi kemerdekaan yang dilakukan oleh UDT (União Democratico Timorense), APODETI (Associação Popular Democratico de Timor), dan KOTA (Klibur Oan Timor Aswain). Sebagai sebuah organisasi yang berbentuk ‘frente,’ di mana ASDT (Associação Social Democrata Timorense) sebagai kekuatan utamanya, sudah pasti di dalam organisasi Fretilin diwarnai dengan adanya friksi dan faksi. Tiga faksi terbesar saat itu adalah ASDT-Mari dan Horta cs, ASDT-Xavier do Amaral, dan Falintil-Lobato. Kuatnya tekanan militer Indonesia menjadikan ketiga faksi tersebut tercerai-berai.
Fase pengkonsolidasian Fretilin dimulai kembali pada awal ’80-an. Namun konsolidasi ini tidak berlangsung lama, seiring dengan munculnya pemimpin perlawanan baru di luar ketiga faksi tersebut, yakni Xanana Gusmão dengan konsep ‘unidade nasional’-nya. Situasi ini makin diperparah semenjak dipisahkannya Falintil dari Fretilin, serta seiring dengan mulai tersingkirnya orang-orang Fretilin dari Falintil, dan masuknya orang-orang CNRT ke Falintil.
Gerakan pembebasan nasional Timor Leste yang pada awal-awal proses invasi Indonesia, yang lebih banyak didominasi oleh pemikiran kiri/iskerda (komunisme, sosialisme, sosialisme demokrasi), di mana pemikiran ini banyak tertampung di organisasi ASDT dan Fretilin, memasuki tahun-tahun 1980-an mulai berhadapan dengan faham progresif (tengah) anti kolonialisme, yakni nasionalisme yang dipelopori oleh Xanana Gusmão beserta Abilio de Araujo. Tercerai-berainya kekuatan kiri (akibat banyaknya figur-figur intelektual mereka yang menyerah atau meninggal oleh serangan militer Indonesia), seperti serta ketidakberdayaan mereka menghadapi masuknya gelombang faham nasionalisme ala Xanana. Sementara itu, pada saat yang bersamaan, Mari Al-katiri dan Ramos Horta yang berada di luar negeri, praktis kehilangan kontrol terhadap orang-orang dan organisasi Fretilin. Nasib kedua tokoh ini mirip dengan kepala tanpa tubuh; atau otak tanpa kepala.
Sepanjang sejarah perkembangan organisasi perlawanan Timor Leste menunjukkan kepada kita mengenai betapa besar dan dominannya peranan Xanana Gusmao sejak awal tahun 1980-an hingga 1999. Figur Xanana mampu tampil sebagai sosok sentral hampir dalam segala hal. Kita juga dapat menyaksikan, bagaimana seorang Xanana secara pelan-pelan mampu menyingkirkan peranan dan eksistensi organisasi Fretilin dalam pengambilan keputusan terkait dengan strategi dan taktik perjuangan, dimulai dari pembentukan CNRN hingga CNRT.
Intinya, Xanana dengan organisasi bentukannya mampu mengambil alih “legalitas” perjuangan kemerdekaan nasional dari tangan Fretilin, dengan tetap memasukkan slogan-slogan Fretilin yang “terlanjur” populer di kalangan massa. Penangkapan Xanana tanggal 20 November 1992 dan penahanannya oleh pihak pemerintah Indonesia di Cipinang, makin menempatkan figur mantan Presidente da Republika periode 2002-2007 ini sebagai “satu-satunya” pemimpin resistensi modern Timor Leste. Kondisi inilah yang pada akhirnya membentuk karakter dan tipekal politik Xanana saat ini. 
Sementara itu, Fretilin sendiri baru dapat dikonsolidasikan kembali sebagai sebuah organisasi sosial-politik dengan status legal-formal pada awal-awal kemerdekaan (pasca referendum 1999). Pengkonsolidasian ini melibatkan orang-orang Fretilin Lama (sisa-sisa generasi 1975---khususnya pemimpin-pemimpin Fretilin yang era Indonesia berada di luar negeri) dengan orang-orang Fretilin Baru (anak-anak Fretilin yang notabene dibesarkan oleh politik Xanana). Pengkonsolidasian awal ditandai dengan keikutsertaan Fretilin dalam pemilihan umum pertama pada tahun 2002, serta dominasi kekuatannya dalam pembentukan pemerintahan “Governo Constitusional I (termasuk mayoritas mutlak di Asemblea Constituante)”.
Di awal-awal kekuasaannya, Pemerintahan Fretilin menghadapi ketidakstabilan politik nasional dengan meletusnya peristiwa 4 Desember 2002 yang berdampak pada pembakaran rumah kediaman Mari Al-katiri yang menjabat sebagai Perdana Menteri. Dalam perkembangannya, pemerintahan Fretilin terus diwarnai dengan berbagai macam protes dan ketidakpuasan dari individu-individu atau kelompok non-Fretilin, termasuk protes dari kalangan Gereja yang mengorganisir umat/jema’atnya untuk melakukan demontrasi selama hampir 1bulan di pertengahan tahun 2005. Dan puncak dari ketidakpuasan ini berakhir dengan digulingkannya pemerintahan Fretilin-Mari Alkatiri dari kursi kekuasaannya pada bulan Mei 2006 yang dipicu dengan konflik internal di tubuh institusi militer Falintil-FDTL. Selain itu, kelompok-kelompok social politik non-Fretilin, dalam rangka mendelejitimasi pengaruh Fretilin pada massa rakyat, selalu menggunakan issu bahwa “Fretilin adalah partai bersejarah. Untuk menjaga nama dan kesucian Fretilin, maka seharusnya memasukkan Fretilin dalam museum.”
Selama proses pengkonsolidasian Fretilin, tidak semata-mata dibenturkan pada persoalan eksternal saja, melainkan juga menghadapi gejolak internal. Sejak permulaan dideklarasikan sebagai partai legal-formal, partai historis di bawah kepemimpinan Francisco Gutteres “Lu-Olo” dan Mari Al-katiri ini juga dihadapkan pada perpecahan internal organisasi, yakni adanya tuntutan gerakan perubahan (mudança) dalam tubuh Fretilin, khususnya mudansa terhadap kepemimpinan Lu-Olo – Mari Al-katiri. Kelompok mudança yang dipimpin oleh Jose Luis Gutteres ini (salah satu kandidat presiden 2012), pada akhirnya menyatakan keluar dari Fretilin dengan mendirikan organisasi baru: Partido do Frente da Mudança (Front Perubahan).  
Penentangan terhadap Fretilin semakin menemukan bentuknya, ketika dalam Kongres Nasional tahun 2006, Mari Al-katiri tetap terpilih sebagai Secretario Geral-nya. Keadaan ini, memicu Xanana Gusmão untuk menghidupkan kembali CNRT pada tahun 2007. Tentu tidak ada jalan lain bagi Xanana untuk membendung arus “influence” Fretilin dan Mari Al-katiri selain dengan menghidupkan dan menggunakan CNRT sebagai kendaraan politiknya. PD yang proses pembentukannya juga diarsiteki oleh Xanana, tidak mampu tampil sebagai kekuatan alternative untuk menandingi Fretilin.
Ketegangan politik di antara dua figur nasional (Mari dan Xanana) ini semakin memuncak seiring dengan kalahnya Lu-Olo oleh Ramos Horta dalam elisaun jeral presidensial 2007 pada segundo ronde. Kemenangan Ramos Horta dalam Pemilu 2007 tersebut tidak lepas dari dukungan politik yang diberikan oleh Xanana Gusmao.
Tingkat antipati dan kebencian orang-orang Fretilin terhadap Xanana juga semakin menemukan formatnya terkait dengan proses pembentukan pemerintahan baru, di mana tidak ada sebuah partai pemenang mutlak (50 + 1) dalam Elição Geral Parlementer 2007. Fretilin, meskipun menang, tapi tidak mayoritas mutlak (21 kursi), sedangkan perolehan CNRT sendiri hanya 18 kursi. Dengan memanfaatkan “interpretasi bebas” atas Konstitusi RDTL, maka Xanana melalui CNRT melakukan aliansi politik dengan partai lain seperti PD, PSD (Partai Sosial Demokrasi), ASDT, dan lain-lain untuk membentuk pemerintahan baru dengan nama AMP (Aliança Maiora Parlemen) dengan Xanana sebagai Primeiru Ministru. 
Kemenangan Xanana ini direspon “negative” oleh Fretilin. Reaksi keras sebagai wujud perlawanan terhadap Xanana dilakukan oleh massa pendukung Fretiliin dengan cara membakar rumah para simpatisan partai non-Fretilin (kasus terbesar terjadi di Distrito Viqueque dan Baucau). Sementara dari kalangan elit Fretilin menyatakan bahwa Pemerintahan AMP adalah inskontitusional (sikap ini tidak konsisten dilakukan oleh Fretilin). Simbol-simbol lain perlawanan massa pendukung Fretilin terhadap Xanana-AMP dapat kita lihat, bagaimana hampir selama 5 tahun terakhir ini, bendera-bendera Fretilin dikibarkan di hampir semua gang, jalan, perumahan dan pepohonan ibukota Dili.
Kembali ke topik, lalu, seberapa besar dan darimana kekuatan kedua kandidat presiden dalam elição geral 2012 pada segundo ronde yang rencananya akan diselenggarakan pada tanggal 16 April tersebut berasal?
Ditetapkannya Presidente Fretilin, Francisco Guterres “Lu-Olo” sebagai kandidat presiden dalam elição geral 2012 bukanlah tanpa melalui perdebatan yang melelahkan. Sebelumnya, yakni beberapa minggu setelah Taur Matan Ruak menyatakan rezigna dari jabatannya sebagai Comandante Em Chefe (Panglima) das Falintil-FDTL, terdengar kabar bahwa kelompok Taur Matan Ruak telah melakukan lobi politik kepada para anggota Comite Central Fretilin dengan maksud untuk mendapatkan dukungan politik dari Fretilin pada elição geral presidential 2012.
Sumber dari CCF juga menyatakan bahwa penolakan Fretilin terkait dengan proposal Taur tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa Taur Matan Ruak memiliki “permasalahan di sektor barat/loromonu” berkenaan dengan krize 2006. Realitas menunjukkan bahwa Fretilin juga memiliki basis pendukung yang kuat di distrik-distrik yang berada di area loromonu. Diperkirakan, bila Fretilin menjadikan Taur Matan Ruak sebagai kandidat resminya, maka akan banyak simpatisan Fretilin yang berada di sektor barat/loromonu akan mengalihkan dukungannya pada Fernando de Araujo “Lasama” yang merupakan kandidat PD. Serta berbagai pertimbangan lainnya.
Maka, solusi Fretilin dalam merespon proposal kubu Taur tersebut adalah menolak Taur Matan Ruak sebagai kandidat Fretilin dan mencalonkan Lu-Olo sebagai kandidat resmi Fretilin.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa 133.635 suara atau 28,76 persen yang didapat oleh Lu-Olo dalam putaran pertama adalah murni berasal dari massa pendukung Fretilin. Perolehan suara ini menurun drastic jika dilihat dari prediksi CCF (Comite Central Fretilin) yang memperkirakan mendapatkan suara di atas 250 ribu suara. Jika prediksi ini benar, lalu kemana larinya sekitar 121 ribu suara pendukung Fretilin tersebut?
Dari hasil observasi penulis bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat menjadi sumber penyebab hilangnya suara pendukung Fretilin terhadap Lu-Olo, yakni pertama, ada simpatisan Fretilin, khususnya para veteran yang mendukung Taur Matan Ruak. Kedua, ada simpatisan Fretilin yang mendukung kandidat Rogerio Lobato dan Jose Luis Guterres. Ketiga, banyak simpatisan Fretilin yang tidak menggunakan hak pilihnya (khususnya yang tinggal di Dili) karena permasalahan perundang-undangan (para pemilih hanya bisa memilih di daerah tempat Kartu Tanda Penduduk atau Cartão Electoral dikeluarkan) dan bagi para warga Negara RDTL yang saat ini berada di luar negeri yang jumlahnya sekitar 15 ribu juga tidak dapat menggunakan hak pilihnya karena institusi pemilihan CNE (Comissão Nacional de Eleições) dan STAE (Secretariado Tecnico da Administração Eleitoral) tidak memfasilitasi mereka dengan berbagai alasan. Keempat, ada pemilih Lu-Olo/Fretilin yang salah memilih atau suaranya dinyatakan tidak sah (kalangan orang tua/manula).
Sementara itu, untuk Taur Matan Ruak, bahwa 119.462 suara atau 25,71 persen yang didapat kemungkinan besar berasal dari berbagai unsur kelompok politik, seperti sebagian besar massa CNRT, sebagian kecil massa PD, golongan veteran Falintil non Fretilin-Lobato, PST (Partido do Socialista de Timor), PSD (Partido do Sociál Democrata), ASDT versi Gil Alves serta simpatisan Xanana Gusmao lainnya. Meskipun Taur mendeklarasikan diri sebagai kandidat personal (independente), dapat dikatakan bahwa penyumbang suara terbesar berasal dari massa pendukung Partido do CNRT. 
Kesimpulannya adalah bahwa dalam “combate im primeiro ronde” antara Lu-Olo (Mari Al-katiri) versus Taur (Xanana Gusmão) ini dimenangkan oleh Lu-Olo (Mari). Pada level ini, hegemoni dan pengaruh Mari Al-katiri dengan Fretilinnya masih terlihat lebih dominan dibandingkan Xanana dengan CNRT-nya. Tentu, komposisi ini akan dapat berubah ketika memasuki fase segundo ronde.

C.    KOMPOSISI KEKUATAN KANDIDAT PRESIDEN PASCA PRIMEIRO RONDE
Saat ini (menjelang pelaksanaan pemilihan tahap kedua pada 16 April) terasa sekali adanya perbedaan nuansa dan suhu politik dibandingkan saat menjelang putaran pertama pada 17 Maret lalu. Pada primeiro ronde, “keramaaian atau hingar-bingar politik (movimento actividade politicos)” sangat terasa. Berbagai macam alat mempromosikan kandidat, begitu nampak. Kota Dili, dan kota-kota distrik dipenuhi dengan spanduk, poster serta berbagai alat propaganda lainnya. Sementara itu, memasuki masa kampanye segundo ronde ini, terasa sangat “adem-ayem (calma)” atau “hening.”
“Keheningan” ini hampir mirip dengan diri kita ketika diserang oleh nyamuk (penyakit) malaria: panasnya membuat tubuh menggigil dan dinginnya juga membuat tubuh terasa menggigil. Atau bagi hamparan lautan, di mana pada permukaan tak terlihat riak gelombang yang besar, namun di bawahnya terdapat pusaran yang terus berputar (dulas tun, dulas sai), yang setiap saat menyedot segala sesuatu yang melintas di atasnya.
Kondisi yang “tenang namun menegangkan” ini, juga tidak terlepas dari banyaknya isu atau rumor yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Lebih-lebih, ketika dikaitkan dengan munculnya banyak spekulasi politik: “apa yang akan terjadi jika salah satu dari dua kandidat tersebut kalah.”
Selain itu, perbedaan nuansa ini juga tak terlepas pada beberapa factor atau variable sebagai berikut: pertama, pada pemilihan umum tanggal 17 Maret diikuti oleh 12 kandidat, sedangkan pada putaran kedua ini hanya diikuti oleh 2 kandiddat saja. Kedua, pada putaran pertama banyak menyebar spekulasi politik terkait dengan meninggalnya salah satu kandidat, yakni Xavier do Amaral, khususnya terkait dengan keberadaan massa pendukungnya. Ketiga, masyarakat mengalami semacam “teror atau intimidasi psikologis” dalam dirinya: “suka atau tidak suka, bahwa salah satu dari dua kandidat (Lu-Olo dan Taur) akan keluar menjadi pemenang dan sebagai Presidente da Republica.” Keempat, jika pada putaran pertama “psy war” sangat varian dengan sasaran 12 kandidat, sedangkan memasuki putaran kedua ini “psy war” terjadi hanya antara dua kandidat. Kelima, apa yang akan terjadi apabila salah satu dari dua kandidat tersebut tidak terpilih? Keenam, seberapa besar pengaruh hasil pemilihan presiden ini terhadap pemilihan anggota Parlemen Nasional beserta komposisi pemerintahan baru? Ketujuh, dan sebagainya.
Terkait dengan peta dan komposisi kekuatan, terdapat fenomena dan indikasi yang menarik yang bakal terjadi dalam putaran kedua Elição Geral Presidençiais 2012 ini. Fenomena ini, tidak  semata-mata berhenti pada pemilihan presiden saja, melainkan akan terus berlanjut dan berdampak pada pemilihan umum parlementer yang rencananya diselenggarakan pada bulan Juni tahun ini, serta menyangkut nasib figur-figur generasi ’75 dan lingkarannya.
Sebuah manuver penting terjadi pada tanggal 21 Maret lalu, di mana dua kandidat yang tersingkirkan pada primeiro ronde (Jose Ramos Horta dan Fernando De Araujo “Lasama”) melakukan press conference di Hotel Timor yang intinya menyatakan bahwa Ramos Horta akan mendukung PD dalam  elição geral parlementer 2012. Horta dan Lasama juga sepakat akan membangun sebuah koalisi dalam pembentukan pemerintahan baru. Selain itu, keduanya menyatakan belum menentukan sikap dukungan terhadap kedua kandidat di segundo ronde.
Press conference tersebut menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk dicermati mengingat jumlah total perolehan suara kedua kandidat tersebut sekitar 161.612 suara atau 34,78 persen (Horta dengan 81.231 suara/17,48%, sedangkan Lasama dengan 80.381 suara/17,30% berdasarkan siaran pers resmi dari CNE tanggal 22 Maret 2012).
Masih terkait dengan manuver politik kedua kandidat ini, maka pada tanggal 29 Maret ini, keduanya melakukan pertemuan politik di kediaman almarhum/matebian Francisco Xavier do Amaral di Marabean (Dili) bersama-sama dengan kandidat presiden tersingkir lainnya, Abilio de Araujo (Presidente do Partido do Nacional de Timor/PNT) yang dalam putaran pertama mendapatkan dukungan sebanyak 6.294 suara atau 1,35 persen.
Sementara itu, Lasama dengan PD-nya juga melakukan sebuah konferensi pers di Sekretariat Nasional PD tanggal 29 Maret yang intinya menyatakan bahwa secara organisasional PD tidak memutuskan untuk mendukung Lu-Olo atau Taur, tetapi memberikan kebebasan secara penuh kepada para pemilih Lasama di putaran pertama dan para simpatisan PD untuk menentukan pilihannya sendiri pada segundo ronde.  
Hal menarik lainnya adalah kedua figur tersebut secara historis memiliki keterkaitan secara emosional dengan Fretilin. Ramos Horta sendiri merupakan salah satu dari pendiri ASDT-Fretilin tahun 1975 serta memiliki hubungan khusus dengan Mari Al-katiri, sedangkan Lasama selalu menyatakan diri sebagai orang yang memiliki semangat Fretilin. Di sisi yang lain, kedua orang ini juga memiliki hubungan emosional dan politik dengan CNRT, khususnya Xanana. Dengan Xanana Gusmão, baik Horta dan Lasama, sama-sama memiliki hutang jasa politik selama periode 5 tahun terakhir ini (Horta didukung sebagai presiden 2007, dan Lasama didukung sebagai Presiden Parlemen Nasional serta “kebebasan tanpa teguran” terhadap orang-orang PD yang mendapatkan jatah kursi ekskutif di pemerintahan AMP). Meskipun pada akhirnya, baik Horta maupun Lasama sama-sama merasa “dikhianati” oleh Xanana mengingat Xanana lebih mendukung Taur Matan Ruak sebagai kandidat presiden 2012. Untuk Abilio de Araujo sendiri, secara emosional dan politik memiliki hubungan dengan Fretilin, dan dengan Xanana terkait dengan politiknya di tahun 1980-an yang mempelopori gerakan rekonsiliasi nasional (unidade nasional dan nasionalisme).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa manuver yang dilakukan oleh beberapa elit politik tersebut merupakan sebuah gaya diplomasi ala Horta untuk sebuah bargaining position baik kepada Xanana maupun Mari Al-katiri serta mengembalikan citra dirinya yang mulai luntur akibat kekalahannya dalam putaran pertama. Selain itu, beberapa statemen politik Ramos Horta akhir-akhir ini, cenderung mengarah pada pembentukan citra dirinya sebagai sosok negarawan, ciri-ciri pemimpin yang tidak dimiliki oleh kedua kandidat yang avanza/melaju ke segundo ronde.
Sedangkan bagi Fernando Lasama sendiri, ini merupakan sebuah perwujudan sikap yang dilematis. Secara emosional politik, ia tidak bisa melepaskan diri dari ikatan persaudaraan politik dengan Xanana. Tetapi, pada saat yang bersamaan, ia juga tidak bisa memungkiri/membohongi nuraninya kalau Xanana selaku saudara tua “maun bo’ot-nya” sudah menyakiti perasaannya. Dengan demikian, bagi PD, khususnya Lasama, dihadapkan pada kondisi yang krusial. Krusial karena menyadari jika pilihan dukungan secara institusional diberikan pada salah satu kandidat, maka akan berdampak pada perolehan suara PD pada pemilihan umum parlementer.
Kekecewaan yang ditimbulkan oleh sikap Xanana tersbut, secara psikologis telah membawa Lasama untuk mendukung Lu-Olo. Tetapi, kondisi psikologis ini dibenturkan pada realidade politico, di mana Lasama dan PD hingga detik ini belum bisa keluar dari pengaruh atau hegemoni Xanana. Singkatnya, Lasama dengan PD-nya berada pada posisi “la bok’an”: maju kena, mundur pun kena, dan ke samping juga kena. Mendukung Lu-Olo berarti harus berhadapan dengan Xanana; mendukung Taur, berarti harus siap untuk ditinggalkan lagi oleh Xanana; serta jika bergabung dengan Ramos Horta berarti harus siap kalau kakinya diberi taji untuk dijadikan sebagai manu/ayam/jago dalam arena “futu politico” oleh Horta. Lasama yang berdarah, Horta yang colheta/panen hasilnya.
Faktor lain guna menghitung kekuatan dan besaran peluang dari dua kandidat presiden (Lu-Olo dan Taur) adalah unsur primodialisme (regionalism), yakni lorosa’e/timur dan loromonu/barat. Di Timor Leste, variable ini relative tidak konsisten, artinya dalam kondisi tertentu bersifat mempengaruhi/influença, tetapi dalam situasi yang berlainan bersifat menentukan/diterminan.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa sepanjang sejarah perkembangan masyarakat Timor Leste, persoalan lorosa’e dan loromonu merupakan persoalan yang bersifat laten (sesekali hilang, sesekali muncul). Persoalan regionalismo ini sudah terbentuk seiring dengan praktek kolonialisme Portugis. Ini semakin menguat, ketika era pendudukan Indonesia  juga dimanfaatkan untuk memuluskan intereste politico Jakarta.
Di era kemerdekaan, isu primodial, yang kemudian lebih mengarah pada pembagian wilayah (regionalismo) antara Timor Leste wilayah barat (Distrik Oequsi, Bobonaro, Covalima, Liquisa, Ermera, Dili, Manufahi, Aileo, Ainaro, dan Manatuto) dengan wilayah timur (Distrik Baucao, Viqueque, dan Lospalos) sempat mengemuka dan mendapatkan ruang dengan meletusnya konflik 2006. Bahkan hingga detik ini, perbincangan-perbincangan menyangkut persoalan ini masih sering terdengar (kadar-nya bersifat fluktuatif).
Intinya adalah bahwa situasi, konstelasi, dan komposisi politik di Timor Leste sangat diwarnai dengan isu tersebut. Jika hal ini dikaitkan dengan keberadaan para kandidat presiden, maka dari 12 kandidat plus Almr. Xavier do Amaral, mayoritas berasal dari wilayah Timor Leste bagian barat. Sementara dari semua kandidat yang lolos pada putaran kedua (Lu-Olo dan Taur) sama-sama berasal dari wilayah timur: Lu-Olo (Distrik Viequeque) dan Taur (Distrik Baucau). Menariknya lagi, keduanya berasal dari satu suku bangsa, yakni Makasai (sebuah suku yang ada kemiripan/satu rumpun dengan masyarakat/suku-suku di Papua).
Dengan demikian, dalam konteks regionalism ini, maka rakyat yang tinggal di bagian barat tidak ada yang mewakili. Pertanyaannya adalah, apakah sentiment kedaerahan ini akan muncul dan dominan dalam putaran kedua?
Kesimpulan sementara penulis adalah bahwa pada primeiro ronde, faktor regionalismo terlihat dominan dan bersifat diterminan. Sedangkan pada segundo ronde, faktor ini bersifat mempengaruhi saja. Karena bersifat mempengaruhi, maka tingkat apatisme politik masyarakat bagian barat akan cukup tinggi (ada kecenderungan bahwa partisipasi dalam pemberian suara akan menurun, mengingat dari segi kedaerahan, mereka tidak memiliki wakil/representador).
Kembali pada topic pembahasan, bagaimana komposisi kekuatan suara kedua kandidat presiden?
Kandidat Presiden Lu-Olo dicalonkan oleh Frretilin. Dalam putaran pertama mendapatkan suara sebesar 133.635 suara atau 28,76 persen. Ini merupakan suara murni yang berasal dari massa pendukung Fretilin.
Memasuki putaran kedua, Lu-Olo mendapatkan dukungan secara organisasional berasal dari Bloku Proklamador dengan eks kandidat Rogerio Lobato, Partido KOTA dengan eks kandidat Manuel Tilman, Partido Trabalista (partai gurem) dan Partido ASDT versi João Coreira. Secara personal, dukungan diperoleh dari eks kandidat presiden Maria do Ceu Lopes, eks kandidat Angelita Pires, sebagian pimpinan Partido KHUNTO, sebagian pimpinan UNDERTIM, sebagian pimpinan CPD-RDTL dan sebagian pimpinan PD.
Sementara itu, kandidat presiden Taur Matan Ruak merupakan calon independen, yang kemudian didukung oleh Partido CNRT dengan Xanana Gusmao, Partido ASDT versi Gil Alves (aktual Menteri Perdagangan dan Perindustrian), Partido Nasionalista de Timor dengan eks kandidat Abilio de Araujo, Partido Socialista de Timor/partai gurem, dan Partido Republica/partai gurem. Sementara itu, secara personal juga memperoleh dukungan dari sebagian pimpinan PD, UDT, sebagian pimpinan UNDERTIM, dan PSD.
Terkait dengan potensi suara mengambang adalah eks kandidat Ramos Horta, eks kandidat Lasama dengan PD-nya, eks kandidat Jose Luis Guterres dengan Partido Frenti Mudansa-nya, eks kandidat Lucas da Costa, dan eks kandidat Francisco Gomes dengan PLPA-nya.
Berikut ini table kekuatan masing-masing kandidat:

Lu-Olo
%
Vloating Mass
%
Taur
%
133.635
28,76



119.462
25,71
Rogerio Lobato
16.219
3,49
Ramos Horta
81.231
17,48
Abilio de Araujo
6.294
1,35
Manuel Tilman
7.226
1,56
Lasama
80.381
17.30
CNRT -Xanana

(?)
Maria de Ceu
1.843
0,40
Jose Luis Guterres
9.235
1,99
ASDT “G. Alves”

(?)
Angelita Pires
1.742
0,37
Lucas da Costa
3.862
0,83
CPD-RDTL

(?)
Bloku Proklamdor
(?)
(?)
Francisco Gomes
3.531
0,76
Republika

(?)
ASDT “J Coreia”
(?)
(?)
PD
(?)
(?)
UDT

(?)
KOTA
(?)
(?)
Frenti Mudansa
(?)
(?)
PNT

(?)



PSD
(?)
(?)






KHUNTO
(?)
(?)



Total
160.655
34,58

178.240
38,36

125.756
27,06




Melihat komposisi tersebut, kedua-duanya memiliki peluang yang sama. Artinya, perolehan suara kedua kandidat tidak akan jauh berbeda. Meskipun begitu, terdapat beberapa varibel penting yang kemungkinan akan mengubah komposisi kekuatan suara, seperti variable kedaerahan, personal performance dari kedua kandidat, lobi-lobi politik terkait dengan komposisi pembentukan pemerintahan pada bulan Agustus yang akan datang (pasca pemilihaan umum parlementer 2012), serta tidak ada jaminannya bahwa suara lider akan diikuti oleh massa (dalam kasus Timor Leste, terdapat dinamika yang relative unik dari karakter masyarakatnya: “kamu siapa?”).***






    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar