Minggu, 25 Maret 2012

LU-OLO vs TAUR = MARI versus XANANA: POVU SAI (Rakyat Menjadi) AYAM POTONG


LU-OLO vs TAUR = MARI versus XANANA: POVU SAI (Rakyat Menjadi) AYAM POTONG
By Vladimir Ageu DE SAFI’I (Timor Leste)


Dibandingkan dengan elisaun jeral presidensial tahun 2007, maka elisaun 2012 ini terlihat lebih menarik. Pertama, diikuti oleh 13 kandidat. Kedua, di tengah-tengah berlangsungnya kampanye, seorang kandidat, Francisco Xavier do Amaral (Proklamador RDTL---Republica Democratica de Timor Leste tanggal 28 November 1975) meninggal dunia karena sakit. Ketiga, dapat dikatakan bahwa mayoritas kandidat tersebut adalah para pemain lama dengan konsep lama yang mewakili kepentingan generasi lama. Keempat, sejak awal telah diprediksikan bahwasannya kandidat yang akan masuk dalam putaran kedua adalah berkisar antara Lu-Olo, Taur, Horta dan Lasama. Kelima, dana subsidi untuk kanndidat yang baru dicairkan setelah proses pemilihan umum berakhir. Keenam, bahwa banyak warga negara yang memiliki hak pilih yang tidak menggunakan hak pilihnya karena terganjal dengan Undang-Undang Pemilihan Umum yang mengharuskan untuk memilih di lokasi di mana Kartaun Elektoral dikeluarkan serta tidak difasilitasinya bagi warga negara yang berada di luar negeri (sekitar 100 ribu tidak menggunakan hak pilihnya dari total daftar pemilih yang berjumlah 628.454.
Hal menarik lainnya adalah kekalahan telak kandidat incumbent Ramos Horta dan Fernando Lasama de Araujo yang suaranya tidak mencapai angka 80 ribu suara (17%). Kekalahan Horta sendiri lebih banyak disebabkan tidak adanya dukungan politik dari Xanana Gusmao dengan CNRT-nya sebagaimana yang pernah diberikan pada pemilu 2007. Sementara itu, kekalahan Lasama lebih banyak dipengaruhi oleh beralihnya dukungan massa Partidu Demokratiku kepada kandidat Taur Matan Ruak.
 Akhirnya, elisaun jeral yang digelar pada tanggal 17 Maret lalu berakhir dengan dilanjutkan pada segundo ronde karena tidak adanya pemenang mutlak, yakni antara Francisco Guterres Lu-Olo dengan perolehan suara mendekati 129 ribu (28%) dan Taur Matan Ruak dengan perolehan suara lebih dari 113 ribu (25%). 
Sejak awal, penulis sendiri telah memperkirakan bahwa Lu-Olo yang dicalonkan oleh Fretilin (Frente Revolucionario de Timor Leste Independente) akan masuk pada putaran kedua. Prediksi ini bertentangan dengan pandangan banyak kalangan yang menyatakan bahwa Lu-Olo tidak akan masuk putaran kedua karena suara Fretilin akan terpecah-pecah, yakni lari ke Taur, Rogerio Lobato, dan Jose Luis Gutteres.
Terkait dengan lolosnya Francisco Guterres Lu-Olo dan Taur Matan Ruak ke putaran selanjutnya, telah banyak menimbulkan rumor di tengah-tengah masyarakat bahwa pertarungan di antara keduanya merupakan pertarungan antara Bandar judi utama yang bernama Mari Al-katiri versus Alexander Kay Rala Xanana Gusmao. Ini merupakan pertarungan “balas dendam” di antara kedua tokoh tersebut terkait dengan perbedaan peran sejarah di masa lalu serta pandangan politik.
Mari Al-katiri merupakan salah satu tokoh utama selain Xavier do Amaral, Nicolau Lobato, Ramos Horta, Rogerio Lobato, Vicente Sahe, dan lain-lain di awal-awal kemerdekaan Timor Leste tahun 1975. Sementara itu, Xanana Gusmao yang peranannya kurang seberapa menonjol dan di luar lingkaran kelompok tersebut adalah figur sentral yang dominan pada era 1980-an pasca meninggalnya tokoh-tokoh lingkaran ‘75’. Secara fisik, antara Mari Al-katiri dengan Xanana tidak pernah bertemu pasca invasi Indonesia hingga digelarnya referendum 1999.
Sejak awal, kelompok Mari Al-katiri diidentifikasi sebagai golongan yang secara politik berideologi kiri (baik sebagai komunis atau sosialis hingga hari ini tidak jelas). Peranan sentral Mari Al-katiri mulai menipis ketika ia berada di luar negeri, yang artinya mulai kehilangan control/kendali terhadap organisasi Fretilin di lima tahun pertama serangan militer Indonesia.
Sedangkan Xanana sendiri, yang meskipun turut membidangi lahirnya Partido Marxismo-Leninismo (PML) pada awal era 1980-an, ia, muncul sebagai salah satu tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan pasca hancurnya kekuatan Fretilin akibat gempuran militer Indonesia, lebih-lebih pasca tewasnya Nicolou Lobato pada tahun 1978.   
Dengan melihat situasi serta kondisi gerakan perlawanan yang tercerai-berai, maka sebagian pemimpin perlawanan pada waktu itu memandang perlu membentuk wadah baru yang mampu menampung semua partai politik dan “kekuatan-kekuatan sosial-politik lain” dalam negeri yang sebelumnya mendukung integrasi Timor Leste dengan Indonesia. Untuk menampung aspirasi semua kelompok, maka didirikanlah CNRN (Conselho Nacional da Revolucionario Nacional). Organisasi ini merupakan wadah baru sebagai usaha untuk mempersatukan semua orang Timor Leste baik yang masih tinggal di Timor Leste maupun di luar negeri (Indonesia, Australia, Portugal, dll) yang berkeinginan untuk merdeka dan melepaskan diri dari penjajahan Indonesia. Dengan sendirinya, lahirnya CNRN ini menegasikan/menghilangkan peranan Fretilin dalam perjuangan.
Selain itu, dengan dipakainya istilah ‘revolusioner,’ CNRN kurang dapat diterima oleh para kekuatan politik lainnya, seperti dari kalangan gereja dan para pemimpin UDT, João Carascalo, yang bermukim di Sidney, Australia. Kelompok ini berpandangan bahwa istilah tersebut berkonotasi kiri atau ada hubungannya dengan ideologi komunisme. Sebagai respon, agar persatuan rakyat Timor Leste dapat terwujud dan perlawanan dapat berlangsung efektif, maka para pemimpin perlawanan seperti Xanana Gusmao, Mahuno, Hodu Ran Kdalak, Bere Malailaka, Konis Santana, Taur Matan Ruak, Lere Anan Timor, David Alex, dan lain-lain memutuskan mendirikan CNRM (Conselho Nacional da Resistençia Maubere).
Dibubarkannya CNRN dan didirkannya CNRM, tidak serta-merta diterima oleh kelompok-kelompok politik sebagaimana dijelaskan di atas. Mereka beranggapan bahwa istilah ‘maubere’ identik dengan Fretilin sayap kiri. Akhirnya, setelah dilakukannya serangkaian diskusi dalam kalangan Dewan Tertinggi Perlawanan memutuskan untuk membentuk wadah baru dengan nama CNRT (Concelho Nacional da Resistênçia Timorense/Dewan Nasional Perlawanan Bangsa Timor).
Dibentuknya CNRT juga menimbulkan penentangan dari para pemimpin di dalam negeri, seperti sikap yang ditunjukkan oleh Nino Konis Santana beserta kelompoknya. Meskipun mendapat penentangan, CNRT tetap dibentuk dan dijalankan dengan pertimbangan bahwa situasi dan kondisi mengharuskan fase ini untuk dilalui. Konsekuansi dari disepakatinya wadah baru bernama CNRT, maka Falintil (Força Armadas da libertação de Timor Leste) pun dipaksa untuk “memutuskan hubungan kepartaian” (despartidarização) dari Fretilin dan menjadi “angkatan bersenjata nasional” di bawah pimpinan CNRM.    
Dengan demikian, oleh kalangan Fretilin, Xanana diidentikkan sebagai orang yang telah menghancurkan Fretilin bersama para pengikutnya. Maka tidak heran, jika di era kemerdekaan ini, suhu permusuhan antara orang-orang Fretilin dengan orang-orang CNRT yang dimotori oleh Xanana masih terus terasa dan berlanjut, walaupun Xanana mencoba mengubah singkatan huruf ‘R’ dari Resistênçia menjadi Recontrução.
Secara teoritis, dapat saja dikatakan bahwa elisaun jeral 2012 merupakan bagian terpenting dari konsep demokrasi partisipatif yang mencoba diterapkan di negeri ini. Namun, realitas politik menunjukkan bahwa elijer kali ini telah menjelma menjadi arena pertarungan ‘futu manu’ (sabung ayam) antara Mari Al-katiri dengan Lu-Olo-nya melawan Xanana Gusmao dengan Taur Matan Ruak-nya.
Ini merupakan pertarungan penghabisan bagi kedua kelompok tersebut. Sebuah pertarungan yang terkait dengan peranan di masa lalu. Pertarungan menyangkut harga diri keduanya. Pertarungan menyangkut eksistensi kedua figur tersebut serta dinasti mereka di masa yang akan datang. Maka, cerah dan gelapnya masa depan mereka akan sangat ditentukan oleh masa atau periode 2012-2017 ini.
Jika saja, rumor tentang pertarungan balas dendam ini benar-benar dan sedang terjadi, maka yang menjadi ayam potongnya adalah rakyat. Slogan demi ‘povu’ dipakai sekedar untuk dijadikan sebagai bahan penarik perhatian povu agar mau terlibat dalam arena pertaruhan joga futu manu. “Dukung dan pilih kami, karena kami adalah ‘jenderal’ pejuang kemerdekaan yang sejati/original. Dan hanya kami yang paling pantas memimpin negeri ini.”
Jika rumor ini benar-benar ada, sesungguhnya ‘pesta demokrasi’ yang selalu dikampanyekan sebagai ‘pestanya’ rakyat, dalam konteks ini hanyalah sebuah kegiatan politik penghambur-hamburan uang rakyat. Sebuah anggaran yang akan lebih memberikan benefisu bila diperuntukkan untuk pembangunan kesejahteraan rakyat. Sedangkan untuk penyelesaian ‘politik gengsi’ dapat dilaksanakan dalam lingkaran meja dengan tidak melibatkan rakyat yang sesungguhnya tidak tahu apa-apa.

Seberapa Besar Kekuatan di antara Keduanya?
Secara historis, kekuatan sosial politik modern di Timor Leste terbagi dalam dua kekuatan besar, yakni Fretilin (ASDT-Fretilin) dan CNRT. Fretilin dibentuk sebagai sebuah kebutuhan untuk menghadapi invasi Indonesia serta gerakan kontra revolusi kemerdekaan yang dilakukan oleh UDT (União Democratico Timorense), APODETI (Associação Popular Democratico de Timor), dan KOTA (Klibur Oan Timor Aswain). Sebagai sebuah organisasi yang berbentuk ‘frente,’ di mana ASDT (Associação Social Democrata Timorense) sebagai kekuatan utamanya, Fretilin diwarnai friksi dan faksi di dalamnya. Tiga faksi terbesar saat itu adalah ASDT-Mari dan Horta cs, ASDT-Xavier do Amaral, dan Falintil-Lobato. Kuatnya tekanan militer Indonesia menjadikan ketiga faksi tersebut tercerai-berai.
Fase pengkonsolidasian Fretilin dimulai kembali pada awal ’80-an. Namun konsolidasi ini tidak berlangsung lama, seiring dengan munculnya pemimpin perlawanan baru di luar ketiga faksi tersebut, yakni Xanana Gusmao dengan konsep ‘unidade nasional’-nya. Situasi ini makin diperparah semenjak dipisahkannya Falintil dari Fretilin, serta seiring dengan mulai tersingkirnya orang-orang Fretilin dari Falintil, dan masuknya orang-orang CNRT ke Falintil.
Fretilin kembali dikonsolidasikan pada awal-awal kemerdekaan. Pengkonsolidasian ini melibatkan orang-orang Fretilin Lama dengan orang-orang Fretilin Baru. Pengkonsolidasian yang ditandai dengan keikutan Fretilin dalam pemilihan umum pertama, serta dominasi kekuatannya di Governo Konstitusional I (termasuk mayoritas mutlak di Asemblea Konstituante) diwarnai dengan berbagai macam protes dan ketidakpuasan dari individu-individu atau kelompok non-Fretilin. Dan puncak dari ketidakpuasan ini berakhir dengan digulingkannya Fretilin-Mari Alkatiri dari kursi kekuasaannya pada tahun 2006. Penentangan terhadap Fretilin semakin menemukan bentuknya ketika tahun 2007, Xanana Gusmao menghidupkan kembali CNRT. Ketegangan di antara dua figur nasional ini semakin memuncak seiring dengan kalahnya Lu-Olo dalam elijer presidensial 2007 serta dalam forma governu yang dimenangkan oleh kelompok Xanana dengan AMP-nya.
Penulis dalam artikel ini sengaja tidak memasukkan PD-Lasama (juga PSD, UDT, PST, dan partai-partai lainnya) sebagai kekuatan tersendiri, mengingat secara emosional dan politik memiliki hubungan historis dengan Xanana Gusmao (lebih-lebih saat pembentukan pemerintah AMP (Aliança Maiora Parlement). Lalu, seberapa besar dan darimana kekuatan kedua kandidat dalam pemilihan segundo ronde tersebut?
Dapat dikatakan bahwa suara yang didapat oleh Lu-Olo (sekitar 129 ribu) dalam putaran pertama adalah murni berasal dari massa pendukung Fretilin. Sementara untuk Taur, suara yang didapat (sekitar 113 ribu) diperkirakan berasal dari berbagai unsure kelompok politik, seperti sebagian besar massa CNRT, sebagian kecil massa PD, golongan veteran Falintil non Fretilin-Lobato, serta simpatisan Xanana Gusmao lainnya. (BERSAMBUNG)*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar